BATU – Memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa atau 1 Muharram dalam kalender Hijriah, masyarakat Desa Songgoriti kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya leluhur melalui rangkaian kegiatan Peringatan 1 Suro 1960 Jawa / 1 Muharram 1448 H. Tradisi yang rutin diselenggarakan setiap tahun ini menjadi momentum spiritual sekaligus budaya yang mempererat kebersamaan warga.
Rangkaian acara telah berlangsung sejak pertengahan Juni 2026 dengan berbagai kegiatan seperti tirakatan, pengambilan air suci (Banyu Panguripan), pembacaan mocopat, selamatan desa, pagelaran wayang kulit, pengajian umum, hingga ditutup dengan Kirab Bantengan 1 Suro yang selalu menjadi agenda paling ditunggu masyarakat maupun wisatawan.
Ngudek Jenang Suro, Tradisi Syukur yang Tetap Dilestarikan
Salah satu agenda yang paling menarik perhatian adalah Ngudek Jenang Suro Bareng yang dilaksanakan di pelataran Candi Supo Songgoriti. Tradisi ini menghadirkan kebersamaan masyarakat dalam mengolah jenang secara gotong royong sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta harapan agar masyarakat Desa Songgoriti diberikan keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang melimpah sepanjang tahun.
Suasana hangat begitu terasa ketika warga dari berbagai kalangan berkumpul untuk mengikuti proses memasak jenang. Tidak hanya menjadi tradisi turun-temurun, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi antarwarga sekaligus sarana mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Bagi masyarakat Jawa, jenang memiliki makna filosofis yang mendalam. Proses mengaduk jenang secara perlahan melambangkan kesabaran, kekompakan, dan doa agar kehidupan masyarakat senantiasa harmonis.
Kirab Bantengan Menjadi Puncak Perayaan
Puncak rangkaian peringatan 1 Suro ditandai dengan Kirab Bantengan 1 Suro yang digelar mengelilingi wilayah Desa Songgoriti. Ribuan warga tampak memadati sepanjang rute kirab untuk menyaksikan atraksi kesenian tradisional yang telah menjadi identitas budaya Malang Raya tersebut.
Kelompok-kelompok bantengan menampilkan pertunjukan yang enerjik dengan iringan musik tradisional, menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Selain menjadi hiburan rakyat, kirab ini juga dimaknai sebagai simbol semangat, keberanian, persatuan, serta bentuk penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan para leluhur.
Antusiasme masyarakat yang tinggi menunjukkan bahwa kesenian bantengan masih memiliki tempat istimewa di hati warga Songgoriti. Kehadirannya setiap bulan Suro menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya desa.
Tradisi yang Konsisten Menjadi Identitas Desa Songgoriti
Peringatan 1 Suro di Desa Songgoriti bukan sekadar agenda tahunan, melainkan telah menjadi bagian dari identitas masyarakat yang terus dijaga secara turun-temurun. Seluruh rangkaian kegiatan terlaksana berkat semangat gotong royong warga, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta berbagai pihak yang turut mendukung kelestarian budaya lokal.
Konsistensi penyelenggaraan tradisi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya masyarakat Jawa, khususnya di kawasan wisata Songgoriti, Kota Batu.
Songgoriti, Wisata Alam yang Kaya Budaya
Selain dikenal sebagai kawasan wisata dengan sumber air panas alami, Songgoriti juga memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang masih hidup hingga saat ini. Berbagai tradisi seperti peringatan 1 Suro menjadi bukti bahwa perkembangan pariwisata dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya lokal.
Bagi pengunjung yang datang ke kawasan Songgoriti Hot Springs, momen bulan Suro menjadi kesempatan untuk menikmati wisata alam sekaligus merasakan atmosfer budaya yang khas. Kehadiran tradisi seperti Ngudek Jenang Suro dan Kirab Bantengan semakin memperkaya pengalaman wisata di kawasan Songgoriti.
Dengan berakhirnya rangkaian acara tahun ini, semangat kebersamaan yang tercipta diharapkan terus terjaga hingga peringatan 1 Suro pada tahun-tahun berikutnya. Tradisi yang diwariskan oleh para leluhur tersebut menjadi pengingat bahwa budaya adalah aset berharga yang harus terus dilestarikan bersama.